Apa Kabar Surakarta – Dunia seni pedalangan Indonesia kembali kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Ki Anom Suroto, maestro wayang kulit asal Surakarta, wafat pada 23 Oktober 2025 di usia 77 tahun. Kepergian beliau menambah daftar panjang dalang kondang yang berpulang, meninggalkan duka mendalam bagi pecinta seni tradisi dan masyarakat Jawa.

Maestro Wayang Gagrak Surakarta
Ki Anom Suroto dikenal luas sebagai salah satu penjaga pakem dan pengembang wayang kulit gaya Surakarta (Gagrak Surakarta). Dalam setiap pagelarannya, ia menghadirkan keseimbangan antara estetika, filosofi, dan pesan moral yang mendalam. Gaya sabetan yang lembut dan tutur bahasa yang penuh makna menjadikan penampilannya selalu dinantikan oleh para penggemar seni pedalangan, baik di dalam maupun luar negeri.
Selain dikenal karena kemampuannya menghidupkan karakter pewayangan dengan elegan, Ki Anom juga piawai dalam menyesuaikan nilai-nilai tradisional dengan konteks kekinian tanpa menghilangkan esensi budaya Jawa.
Baca Juga : Pesan Terakhir Ki Anom Suroto untuk Anak-Anaknya
Pewaris Nilai Luhur dan Pembina Generasi Muda
Dedikasi Ki Anom tidak hanya tampak di atas panggung. Ia juga aktif membina generasi muda dalang melalui berbagai kegiatan seni dan pelatihan di sejumlah daerah. Lewat kiprahnya, banyak dalang muda lahir dan terinspirasi untuk terus melestarikan wayang kulit sebagai warisan budaya tak benda.
Ki Anom Suroto juga sering tampil di berbagai festival budaya nasional dan internasional, membawa nama Indonesia di pentas dunia. Kontribusinya menjadikan wayang kulit tetap hidup di tengah gempuran budaya modern.
Warisan Tak Ternilai bagi Budaya Jawa
Kepergian Ki Anom Suroto menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi. Ia meninggalkan warisan tak ternilai berupa nilai-nilai luhur, filosofi kehidupan, dan semangat pelestarian budaya. Sosoknya akan terus dikenang sebagai dalang yang tidak hanya menampilkan wayang, tetapi juga menghidupkan jiwa bangsa lewat cerita dan petuahnya.
Duka atas kepergian Ki Anom menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Sebab, seperti pesan yang kerap ia sampaikan, “Wayang iku urip, yen isih ana sing nguri-uri.” (Wayang itu hidup, selama masih ada yang melestarikannya).






